Hari ini baru saja saya membaca tulisan ini. Sungguh betul apa kata tulisan itu: lidah nggak ada tulangnya, hati ada darahnya. Jangankan satu percakapan, satu kalimat bahkan satu kata yang terlontarkan, sanggup menggoreskan luka sepanjang hidup. Saya seringkali merasa menyesal, sesal yang sebenarnya sia-sia, karena ucapan saya yang terlanjur terlontarkan, lantas melukai hati dan menyinggung perasaan orang lain. Kalau sudah begini, malu dan minta maaf pun belum tentu dapat mengembalikan keadaan seperti semula. Orang yang tersinggung dengan saya sangat mungkin akan selalu mengingat saya sepanjang hidupnya sebagai orang yang berbuat kesalahan kepadanya. Setiap kali nama saya atau wajah saya teringat di benaknya, yang muncul adalah kesalahan saya kepadanya. Walaupun bahkan mungkin saya tidak sengaja tetapi seperti kata tulisan tadi: lidah nggak ada tulangnya, seringkali sadar atau tidak, apa yang diucapkan menyinggung perasaan orang lain.

Lebih sedih lagi, kalau kata-kata yang terlontar menyakiti hati orang-orang yang terdekat dengan saya. Saya sedih kepada diri saya sendiri, marah kepada diri sendiri, karena orang-orang yang seharusnya paling saya hargai malahan saya sakiti. Padahal, mereka sudah berbuat yang terbaik bagi saya. Sungguh tidak adil bagi mereka.

Apa yang dapat saya lakukan dalam keadaan ini? Sungguh saya tak tahu, kecuali meminta maaf, dan benar-benar berusaha agar tidak terulang….
Saya nggak meniatkan ini sebagai apologi buat diri sendiri. Sekali salah tetap salah, tercatatlah satu baris dosa di buku laporan saya…. :((. Dan ini nggak akan terhapus sampai hari kiamat kecuali ketulusan hati orang-orang yang kepadanya saya buat dosa, untuk memaafkan saya.
Semoga.

~dalam kesedihan