Baru baca di CNN: Red Ink Falling Out of Favor with Teachers

Ngomong-ngomong soal red ink alias tinta merah, kayaknya memang bener yang dibilang di artikel itu kalau warna merah itu diasosiasikan sering juga dihubungkan dengan sesuatu yang negatif dan kasar (harsh). Coba kalau kita ingat-ingat waktu masih SD paling takut kalau di rapor dapat angka merah. Terus juga dalam bahasa Indonesia sendiri, apabila ada sesuatu pekerjaan atau pencapaian yang dinilai negatif atau jelek asosiasinya juga dengan nilai merah. Terus juga orang-orang yang suka ngikutin demo-demo ketidakpuasan kepada pemerintah pasti sering atau setidaknya pernah mendengar slogan atau membaca tulisan spanduk yang menuliskan “rapor merah pemerintahan si A” dan semacamnya. Atau juga kalau seseorang hendak meminta izin melakukan sesuatu dan tidak mendapatkannya maka dikatakan “mendapat lampu merah“. O iya satu lagi, contoh paling gampang ya lampu lalu lintas. Warna merah artinya harus berhenti, stop, nggak boleh jalan.
Pokoknya merah itu konotasinya jelek, kasar, negatif dan segala sebutan yang senada.

Eh tapi ternyata merah itu asosiasinya juga bisa berbeda. Coba deh perhatikan, di antara bendera-bendera negara-negara di dunia, pasti banyak yang memakai warna merah entah itu sebagai warna yang dominan atau tidak. Nah kalau dipakai buat bendera pasti artinya positif dong ya. Iya lah, kalau nggak masa’ dipakai buat warna bendera sih. Contohnya aja, Indonesia. Benderanya warnanya merah putih dan diberi nama “Sang Saka Merah Putih”. Orang Indonesia mestinya waktu SD pernah diajarin kalau merah di situ artinya berani. Atau di beberapa negara juga merah itu merupakan simbol darah yang menyiratkan makna pengorbanan.

Apa sih artinya sebuah warna? Sebenarnya warna merahnya mah nggak punya salah apa-apa. Wong sudah nasibnya jadi warna yang tampak seperti itu di mata manusia. Yang memberikan makna kan manusianya. Manusia memang suka membuat simbol dari apa yang ditangkap oleh panca indranya. Manusia juga suka memberikan label alias mencap sesuatu itu dengan sesuatu yang sesuai menurut panca inderanya. Bahkan kadang-kadang labelling ini sampai membuat terjadinya masalah-masalah yang sebenarnya mungkin sama sekali nggak diinginkan. Masih inget salah satu contoh di pelajaran sosiologi waktu SMA dulu. Kalau seseorang dicap/diejek “maling” oleh masyarakat terus-menerus, ya ada peluang dia bakal jadi maling beneran. Nah kalau gini siapa yang salah? Makanya mesti hati-hati juga ya menyebut seseorang dengan suatu “label”, baik saya maupun Anda semua. Termasuk juga mudah-mudahan banyaknya warna merah di postingan blog kali ini tidak bikin Anda semua punya pikiran yang tidak-tidak. Ya paling parahnya sih cuma bikin sepet mata aja. Dan kalau ini sih, mohon maaf sebesar-besarnya dari saya….🙂